Wednesday, April 15, 2020

Nugget Ayam dan Pisang Crispy


Nugget Ayam

Sudah lama niat mau praktek bikin nugget, tapi baru terlaksana kemarin (14/04/2020). Kebetulan di kulkas ada stok daging ayam giling setengah kilogram. Cukupanlah untuk belajar pertama kali, tidak usah banyak-banyak, kalau gagal biar tidak mubazir.

Dulu sudah pernah di kasih resep nugget oleh Mba Hatma, tapi lupa disimpan dimana. Waktu itu  Rumah Cinta Boga (Ruciga) IP Solo Raya, pernah mengadakan acara Cooking Class Kreasi Nugget di Palur Plasa. Narasumbernya Mba Hatma Subadra, Founder Abura Foods. Beliau member IP dan Ruciga yang berbakat dan cekatan di bidang Boga. Karena, catatan resepnya hilang, maka harus cari resep lagi nih.

Setelah buka beberapa resep  nugget di cookpad, ketemu resep yang cocok yaitu resep dari Novi Ummu Husna. Resep tersebut saya modifikasi sedikit saja, lainnya sudah pas.

Resep Nugget :

Bahan:

Daging ayam giling 500 gram
Tepung panir 3 sdm
Tepung tapioka 2 sdm
Tepung terigu 2 sdm
Telur 2 butir
Bawang putih 6 siung, dihaluskan
Garam halus 1 sdt
Merica bubuk 1 sdt
Royco 1/2 sdt (optional)

Bahan Celupan:
Terigu 4 sdm
Air dan garam secukupnya
Selain menyuguhkan cara membuat 

Bahan Lapisan :
Tepung Panir secukupnya

--
1. Daging ayam di campur dengan telur, uleni sampai rata. Kalau mau teksturnya halus, bisa             diblender.

2. Masukan merica bubuk, tepung terigu, tapioka, dan panir, bawang putih, dan garam.

3. Aduk sampai rata

4. Siapkan loyang, olesi dengan minyak goreng.

5. Masukan ke dalam loyang adonan daging tersebut

6. Kukus kurang lebih 40 menit. Angkat dan dinginkan

7. Potong-potong nugget dengan ukuran sesuai selera

8. Siapkan bahan Celupan : tepung terigu, air dan garam

9. Celupkan potongan nugget satu persatu, lalu gulingkan kedalam tepung panir, sambil ditekan-tekan agar tepung panir nempel.

10. Nugget buatan sendiri, siap di goreng atau dikemas dalam wadah makanan untuk disimpan di freezer.

==
Catatan :

Adonan bisa juga ditambahkan parutan wortel atau jenis sayuran lainnya.

====

Dandang yang saya gunakan untuk mengukus ukurannya tidak besar,  maka saya gunakan loyang berbentuk lingkaran yang sekiranya muat. Hasilnya seperti dibawah ini.





Sayangnya belum dingin benar sudah saya balik, bagian tengah rusak sedikit karena lengket. Seperti tampak pada  gambar dibawah ini. 



Daging Nugget Sebelum di Potong-Potong
Oh iya, waktu membuat nugget itu saya libatkan anak-anak. Mereka membantu menuang tepung, dan menyiapkan dandang,  sampai mengukus.

Bebikinan makanan memang bertujuan melatih anak, agar memiliki keterampilan. Mudah-mudahan bisa menjadi bekal untuk masa depan mereka. Berharap mereka kreatif membuat makanan sendiri, tidak tergantung pada produk-produk pabrikan. 

Pisang Crispy 


Sambil  menunggu nugget matang, kami membuat pisang crispy dari pisang kepok. Bahan, dan caranya sangat sederhana dan mudah. Hanya perlu pisang, tepung terigu, air, garam, vanili, dan tepung panir.


Pisang Kepok
Pisang Kepok


Caranya juga mudah sekali, kupas pisang, lalu belah jadi dua bagian.  Tepung terigu dicampur dengan garam, air, dan vanili,  aduk rata. Celupkan pisang pada adonan terigu, lalu gulingkan pada tepung panir. Pisang bisa langsung dogoreng atau taruh di wadah makanan (food container), lalu simpan ke dalam freezer.


Pisang Crispy
Pisang Crispy
Saya mengenal pisang crispy dari Mba Hatma juga, dulu sering pesan sama beliau. Sekarang karena masa Social Distancing tidak bisa lagi. Sementara anak lanang, rekues pisang tersebut, maka Saya berusaha membuatnya.

Mas A yang rekues pisang crispy, begitu semangat waktu saya ajak membuatnya. Dia yang mengupas pisang, mencelupkan ke tepung, dan menggulingkan satu per satu ke tepung panir.

Pisang yang sudah terbungkus dengan tepung panir itu, kami simpan di freezer untuk stock, sisa pisang kami goreng.

Apa Perbedaan Pisang Crispy dengan Pisang Goreng?


Pisang crispy menggunakan tambahan tepung panir, bisa disimpan dalam freezer, rasanya lebih gurih, dan enak.

Pisang goreng hanya menggunakan tepung terigu saja, harus langsung digoreng, dan disajikan segera, tidak bisa disimpan.

====
Demikian cerita tentang nugget ayam dan pisang crispy, semoga bermanfaat. Terimakasih

===


Friday, April 10, 2020

Cerita Tantangan Hari Ini

Hari ini menulis artikel di Blog tentang menu masakan rumahan yang berhasil dibuat saat stay di rumah saja. 

Sedangkan artikel yang perlu diedit ada yang belum selesai. 

Mengapa ya sekarang jadi tidak nyaman menulis nonfiksi?

Berbeda pada saat menulis fiksi, begitu lancar, mengalir. Tak terasa ribuan kata berhasil dirangkai.

Apakah ini godaan? Atau temuan baru dari hasil semedi mengenal diri?
Aku berusaha menjalankan keduanya. Tetap menulis fiksi dan nonfiksi.

Bisakah??
Saat ini belum bisa seiring sejalan. Masih berat sebelah. Tapi bisa saja ini belum simpul. Masih terlalu awal untuk menyimpulkannya.

Memilih menikmati proses ini dengan bahagia. Tidak bisa terlalu ketat membatasi hanya pada satu genre saja. Malah mentok alias buntu. 

Selama masih berkaitan dengan dunia kepenulisan, saya ijinkan diri melakukannya. Yang utama komitmen menulis artikel ilmiah dan tulisan nonfiksi lainnya. 

Entahlah kepompong ini akan bermetamorfosis menjadi kupu-kupu jenis apa. Terus belajar dan ikuti proses. Bersyukur rasa percaya diri menulis sudah mulai meningkat. Ini awal yang baik. Semoga istiqomah.aamiin

#harike18
#tantangan30hari
#kelaskepompong
#bundacekatan

16 Menu Masakan Rumahan Saat Karantina Mandiri



Hai Bunda, masak apa hari ini?


Adakah yang sudah mulai bosan dengan aktifitas di dapur?

Sebenarnya saya sudah merasa kurang bersemangat memasak. Selain capek juga kekurangan ide mau masak menu apa. Menu yang sekiranya tidak akan ditolak oleh anak dan suami.

Thursday, April 9, 2020

Ada Kemajuan; Sedih kalau Tidak Menulis dan Setor Tulisan


Kemarin saya tidak setor jurnal tantangan 30 (T30), ceritanya ketiduran. Jadi pas ingat belum sempat menulis, kemudian mengantar anak tidur dan bablas ikut tidur.

Saya jadi sedih, itu artinya bolong lagi satu hari, dan tidak setor KLIP satu kali. Padahal bulan ini bertekad todak bolong di KLIP. Bulan sebelumnya cuma setor 10 kali, itulah yang menyelamatkan saya tetap diijinkan ikut kelompok pecinta aksara itu. Sejak itu jadi terdasar bahwa mengikuti suatu komunitas itu tidak boleh asal ikut, tapi lupa tanggung jawab berkarya sesuai komunitas. Lha ikut komunitas menulis ya harus mau nulis tho, hehe.

Ada kemajuan nih, sedih bila tidak setor, biasanya santai saja. Baguslah kalau begitu, biar ada semangat untuk menulis dan rajin setor tulisan.

Ini Tantangan hari ke-17, sudah melewati separoh waktu menempa diri menjadi kepompong sebelum kupu-kupu. Begini ya rasanya  bertapa, dalam hal ini menulis.  Ditengah perjalanan saya melebarkan sayap menulis fiksi. Tak disangka saya menikmati dan mulai percaya diri menulis fiksi.

Sekarang sudah sampai episode 5 aksara yang sudah saya rangkai. Episodenya lumayan panjang isinya, semoga tidak bertele-tele ya alur ceritanya. Dalam sehari kadang bisa menulis sampai 10 ribu kata, dan itu tanpa disadari, pas lihat jumlah huruf di aplikasi itu, baru sadar, dan berusaha mengakhiri cerita. Takutnya pembaca bosan, dan lelah kalau terlalu panjang.

Artikel non-fiksi malah belum selesai, nih. Hayoo..mulai males nulis non fiksi ..hehe. Jujur iya sih. Ada hal yang sangat krusial antara menulis fiksi dan non-fiksi. Imajinasi! ya, kalau fiksi bisa bebas berimajinasi, mau cerita apa, mau jadi tokoh apa, bebas.

Awalnya saya kira tidak bisa berimajinasi lagi, ternyata keliru. Ya itulah bila sudah saatnya, bila Allah telah ijinkan, pasti bisa. Padahal sejak SD sudah kepengen menulis fiksi, tapi selalu mentok dan tidak pernah jadi karya. Imajinasi waktu itu sedang abgus-bagusnya lho, sayang tidak bisa menuangkan ide. Sampai sekarang pun masih belum pandai menulis fiksi sih, ini tak sengaja, dan kebetulan menikmatinya. Makanya lanjut terus saja.

Merasa nyaman saja digrup itu, semua saling support tidak ada hujatan, atau komen yang menjatuhkan.  Atmosfer menulis berasa bangets. Alhamdulillah, semoga makin betah berkarya. Tidak cuma karena masa lockdown saja. Aamiin.

Njajal genre lain boleh kan ya, supaya tidak buntu. Aku melonggarkan syarat bagi diriku untuk menulis jenis apa, yang penting berkarya, dan yang penting jangan lupa tugas utama, menulis apa. Apapun jenis genrenya manfaatnya sama, makin pede menulis dan semangat. Bukankah itu sejatinya tujuan dikelas bunda cekatan ini? Cekatan dibidang kepenulisan.

Baiklah, lanjutkan revisi menulis non-fiksi dulu ya...terimakasih.


#harike17
#tantangan30hari
#kelaskepompong
#bundacekatan





Tirakat Pekan Ketiga Kelas Kepompong




Hallo Bunda, apakabar hari ini? Semoga tetap sehat lahir batin. Tak terasa sudah sampai pekan ke-3 puasa di kelas kepompong. Puasanya dimulai hari ini, Kamis, 09 April 2020. 

Masih tirakat atau puasa yang sama, yaitu manajemen emosi, indikatornya tidak marah, tidak ngegas, tidak ngomel. Sederhana ya tetapi percayalah itu luar biasa susaaaah bagi saya. Memang sudah takdir diciptkan sebagai makhluk yang porsi bapernya lebih banyak, mungkin ya. kadang sampai putus asa lho, karena usaha untuk mengelola emosi sering ambyaar.

Berbagai teori mudah dihafal dan dibaca, namun praktiknya tidak semudah membaca. Masih sering kecolongan, loss control dalam banyak kondisi. Terutama kalau hadapi anak sendiri. Sering menangis melihat diri sudah makin menua, tetapi kondisi psikis masih begini. Bisakah aku sembuh??

Tidak ada yang instan, termasuk melatih kesabaran ini. Aku bersyukur karena masih diberi semangat untuk berjuang memperbaiki diri. Semoga berhasil.

Artikel Lain : Gila Menulis
===
#puasapekanke3
#kelaskepompong
#Bundacekatan
#institutibuprofesional

Tuesday, April 7, 2020

Menulis Tanpa Tuntutan itu Tidak Mudah, Beraaat


Hari ini tepat 15 hari menjalani tantangan 30 hari atau T30, artinya sudah setengah perjalanan dapat dilalui. Apa yang dirasakan selama menjalani tantangan ini? Rasanya nano-nano, alias beraneka rasa, yang pasti tidak mudah mengelola semangat menulis. 

Kalau pada saat menempuh studi bisa menulis puluhan ribu kata dan ratusan halaman, mengapa saat ini setelah lulus tidak sama lagi? Jawabannya mudah, dulu ada rasa segan kepada dosen pembimbing, juga ingat masa studi yang dibatasi. Risikonya sangat besar, bagi pekerjaan maupun keluarga. 

Sedangkan saat ini menulis bukan lagi kewajiban, tetapi menjalankan komitmen dari diri sendiri. Inilah saatnya mengetahui sejauh apa komitmen untuk menjadi penulis. Karena pekerjaan seorang penulis ya menulis. Inilah tantangan yang sebenarnya. Ternyata benar kata dosen-dosen saya dulu, tantangan berkarya pada saat kuliah itu berat, namun lebih berat lagi setelah selesai kuliah. Disitulah ujian yang sebenarnya, apakah setelah lulus masih terus berkarya? 

Makjleb, sekarang saya sedang mengalaminya, hehe. Setelah tidak ada tuntutan berkarya, semangatnya melemah, kalau tidak hati-hati bisa terlena dan lupa. Alhamdulillah, berusaha menjaganya, dengan memilih lingkungan yang kondusif. 

Ehh kok malah cerita kemana-mana yak? hehe...maafken, kan masih relevan. Widih ngeyel!

Kembali ke T30, tidak mudah menjaga komitmen menulis 2 artikel dalam seminggu. Apalagi di masa social distancing ini. Naik turun semangat itu biasa yang penting tetap istiqomah. Justru seru rasanya kalau dapat menaklukan tantangan. 

Kabar baiknya alhamdulillah tulisan fiksi sudah lolos review, dan tulisan artikel ilmiah siap terbit di jurnal bereputasi. Sedangkan target artikel blog, sedang proses ditulis. mudah-mudahan segera selesai dan bisa diposting. Aamin.

Bersyukur alhamdulillah...


#harike15
#tantangan30hari
#kelaskepompong
#bundacekatan

Mendidik Anak Ala Keluarga Berbudi

Link