Ikan Crispy
Rutinitas setiap pagi menyipakn menu sarapan untuk anak-anak. Dari kemarin sudah berencana membuat daging ikan crispy. Bahan-bahan sudah tersedia, tadi malam daging ikan fillet sudah dikeluarkan dari freezer, ke kulkas bagian atas. Pagi-pagi ikan sudah tidak beku, tinggal cuci lagi, kemudian di iris tipis sesuai selera. Jangan lupa buang sisa-sisa duri yang masih ada.
Daging ikan yang sudah diiris tipis, dibumbui merica bubuk dan garam halus secukupnya saja, karena akan diberi tepung bumbu. Setelah didiamkan sebentar, ikan diberi tepung bumbu (saya gunakan tepung bumbu sajiku). Beri sedikit air sampai tepung dan ikan tercampur rata.
Gulung-gulung irisan ikan ke tepung bumbu yang kering, lalu goreng dengan minyak panas. Diaduk pelan-pelan supaya matang dan warna kuningnya merata. Kalau sudah matang, angkat dan tiriskan ya Bund. Ikan crispy siap dinikmati. Simpel, enak dan bergizi.
Ikan crispy bisa disajikan dengan saos tomat, dan nasi putih hangat. lebih lengkapnya tambahkan menu sayuran kesukaan anak-anak ya Bund, seperti tumis brokoli, sawi, wortel, dan lain-lain.
Semuanya sudah siap dan tertata dimeja makan. Tinggal manggil anak-anak untuk sarapan bersama. Ketika saya sibuk didapur menyiapkan makanan, anak-anak bergantian mandi dan sudah siap dengan baju seragam berserta perlengkapan lainnya.
Setiap malam berusaha membiasakan anak-anak untuk menyiapkan segala perlengkapan sekolah untuk esok hari. Tujuannya agar pagi hari anak-anak tidak terburu-buru, dan ada perlengkapan yang tertinggal. Walaupun kadang ada saja, perlengkapan yang ketinggalan. Ya sudah tidak apa-apa, namanya sedang latihan tertib dan disiplin. Esoknya dicoba lagi.
Menanamkan kebiasaan baik (good Habit) memang tidak mudah, tidak bisa ngegas, dan bergegas, harus alon-alon, butuh kesabaran, komitmen dan konsisten. Kadang hampir putus asa juga, namun bisa bangkit dan semangat lagi.
Saya tidak selalu ikut sarapan, tapi ijin mandi, gerah habis masak didapur, kan mau antar anak-anak ke sekolah. Jika Bapaknya anak-anak bisa mengantarkan, maka bisa agak santai dan ikut sarapan. Kalau tidak saya memilih menyiapkan diri. Saya siap, anakpun siap.
Setiap malam berusaha membiasakan anak-anak untuk menyiapkan segala perlengkapan sekolah untuk esok hari. Tujuannya agar pagi hari anak-anak tidak terburu-buru, dan ada perlengkapan yang tertinggal. Walaupun kadang ada saja, perlengkapan yang ketinggalan. Ya sudah tidak apa-apa, namanya sedang latihan tertib dan disiplin. Esoknya dicoba lagi.
Menanamkan kebiasaan baik (good Habit) memang tidak mudah, tidak bisa ngegas, dan bergegas, harus alon-alon, butuh kesabaran, komitmen dan konsisten. Kadang hampir putus asa juga, namun bisa bangkit dan semangat lagi.
Saya tidak selalu ikut sarapan, tapi ijin mandi, gerah habis masak didapur, kan mau antar anak-anak ke sekolah. Jika Bapaknya anak-anak bisa mengantarkan, maka bisa agak santai dan ikut sarapan. Kalau tidak saya memilih menyiapkan diri. Saya siap, anakpun siap.
Usai sarapan, tak lupa anak-anak cuci tangan pakai sabun, sikat gigi lagi. Cek semua perlengkapan sekolah, termasuk air minum. Kalau semua dirasa sudah ready, tinggal cuss...eh jangan lupa panasi dulu mesin kendaraan ya Bund.
Cerita Belajar Nyetir
Sebagai Emak dari tiga anak, Emak dipaksa (duh...kok dipaksa sih). Maksudnya diminta oleh Bapaknya anak-anak kudu bisa menyetir kendaraan baik roda dua maupun empat. Jika cuaca sedang terang cukup gunakan kendaraan roda dua, namun jika cuaca hujan, maka bisa gunakan roda empat supaya anak-anak tidak kehujanan.
Sekarang yang perlu diantar emput cuma dua anak, karena anak pertama sudah mondok, jadi lebih sering menggunakan roda dua sudah cukup.
Itulah tugas sebagai emak, meskipun takut pegang setir, apalagi kendaraannya sangat besar dibanding tubuh mungil ini. Namun demi kepatuhan kepada pemimpin rumah tangga dan kelancaran menjalankan tugas negara ehh kerumahtanggaan, maka mau tidak mau, takut tidak takut, Emak harus lakukan.
Gimana cara mengatasi rasa takut itu Mak? sama dengan belajar hal lain, berani mencoba, belaajr kepada ahlinya, dan rajin latihan. Emak jadi tahu, ternyata menyetir kendaraan itu hal pertama yang ahrus dibangun adalah mental. Ya, mental berani dulu. Berani pegang setir, berani menghidupkan mesin, injak rem, kopling, gas, dan lain-lain.
Nah, untuk menumbuhkan keberanian itu, ya langsung praktik, apa?? hehe..maksudnya langsung belajar nyetir, didampingi ahlinya. Bila perlu baca, dan kenali dulu bagian-bagian kendaraan baik dalam maupun luar.
Amati letaknya, dan ingat baik-baik. Tapi gak usah dihafalkan ya Bund..sering waktu, akan paham sendiri, jika rajin berlatih dan diasah terus pengetahuannya. Kalau sudah terbiasa, kaki seprti sudah punya mata, udah paham mana rem, kopling, dan gas. Bahkan dalam kondisi panik, tidak salah injak lagi. Insyaallah.
Kalau emak dulu, pertama belajar nyetir langsung duduk aja manut sama pelatihnya. Karena tidak sempat belajar dulu, cari indo dulu, ya sudah langsung cuzz....alhamdulillah satu paket 10 kali pertemuan, baru belum bisa menyetir 😂
Sia-sia dong Mak?, eeeiit tunggu dulu, di dua hari terakhir latihan, alhamdulillah sudah tidak grogi lagi pegang setir, injak rem, gas dan lain-lain. Mentalnya sudah terbentuk, keberanian mulai ada, pelan-pelan sudah bisa menundukan kendaraan berbentuk kotak itu.
Pak Pelatih juga mengatakan hal yang sama, ''sudah tidak grogi lagi bu..''.
Alhamdulillah.
Jangan dikira Pak pelatihnya sabar, telaten..''ohh tidak Ferguso'' pelatihnya galak. Kadang kata-katanya membuat kuping dan jiwa panas, tetapi karena kepengen bisa nyetir, niatnya mau belajar sampai bisa. Ya sudah disabar-sabarin, setelah beberapa hari belajar, pak pelatih jaid berubah ramah, gak galak lagi. Aaah..mungkin awalnya jengkel ngadepin murid macam emak inih ye..hehe.
Pernah sih sekali diganti pelatihnya karena pak pelatih galak tidak masuk, dapat pelatih yang kaleeeeemnya masyaallah. Telaten, ramah, Ganteng pisan...eeh 😄 .
Cara mengajarnya sangat berbeda, berhenti didekat taman kota, diajari ini namanya dashboard, ini namanya...bla...bla...fungsinya ..bla..bla....Setelah penjelasan materi selesai, kemudian praktek. Pelan-pelan keliling kota surakarta.
Entah ya, bukan tidak suka caranya, suka dan saluut dengan pelatih kalem itu. tetapi perkiraanku kalau pelatihnya model begitu, gak akan cepet bisa deh. Solanya dulu waktu di Lampung pernah ambil kelas belajar nyetir, pelatihnya model begini, sampai habis satu paket (10 kali belajar dan latihan) tidak bisa. jangan bisa nyetir, mentalnya pun belum terbentuk, masih takut dan merinding membayangkan kendaraan, takut nabrak, takut nini..dan itu.
Oleh karena itu berkesimpulan sepertinya saya lebih cepat bisa bila belajar dengan pelatih yang galak. Terbukti setelah ambil kursus atau belajar dua paket, ditambah privat satu kali sudah bisa walau belum lanyah (laancar). Minimal tak lama lulus kursus berani nyetir PP Solo-Jogja dengan anak-anak tanpa Pak Suami...Biyuuh.
''Lhoo...kok malah cerita tentang belajar nyetir tho iki''
Oke lanjut, acara antara anak. Jarak rumah kosan dengan sekolah anak-anak cukup dekat, hanya 5-10 menit. Karena harus melewati jalan lintas yang dilewati kendaraan truk-truk besar, maka anak-anak harus diantar jemput. Pernah anak-anak ingin anik sepeda, jelas kami larang. Kami setuju sih, anak-anak belajar mandiri, namun dalam hal ini keselamatan lebih utama. Maka tidak kami ijinkan.
Alhamdulillah sampai sekolahan dengan selamat. Dua gadis emak, segera turun, setelah salim mereka menuju kelas masing-masing. Emak segera meluncur pulang meneruskan tugas domestik, yang belum tuntas.
Semoga ujian hari ini diberikan kelancaran ya Anak-anakku. Aamiin.
No comments:
Post a Comment